Apa Rasanya Menikah?

Photo by Caio on Pexels.com

[DISCLAIMER ON]
Berdasarkan sudut pandang pribadi dan orang-orang terdekat penulis

Menikah adalah sebuah pencapaian yang besar. Menikah menjadi suatu goal yang harus dicapai sebelum usia tertentu. Menikah merupakan suatu anugerah terbesar dan wajib kudu dilaksanakan terutama bagi pasangan yang sudah lama berpacaran.

Tapi itu keyakinan untuk sebagian besar orang, terutama di negara Indonesia beberapa negara di Asia lainnya.

Para orang tua di negara Asia kebanyakan menuntut anaknya untuk cepat-cepat menikah. Katanya malu kalau sudah berumur tapi tidak menikah. Katanya nanti kalau tidak menikah bisa-bisa jadi ‘perawan tua’ atau ‘lajang lapuk’. Katanya nanti kalau tidak segera menikah perempuan akan susah memiliki keturunan. Katanya juga kalau sudah tamat kuliah atau sudah bekerja sudah bisa memikirkan pernikahan.

Tapi apa memang seharusnya begitu? Apa kita tidak bisa dengan bebas menentukan kapan saatnya kita mau dan memang siap dengan segala konsekuensi dari pernikahan itu?

Kita disuruh untuk menikah ketika sudah mencapai usia tertentu, atau dianggap sudah mampu jika sudah bekerja di perusahaan atau juga ketika sudah dinilai sukses oleh orang-orang sekeliling kita. Kita kebanyakan hanya disuruh oleh orangtua kita dari kecil sampai besar untuk baik-baik belajar agar bisa masuk ke perguruan tinggi dan bisa bekerja sehingga bisa mapan.

Namun ada berapa banyak orangtua yang betul-betul mempersiapkan anaknya secara matang agar bisa membina rumah tangga yang bisa langgeng sampai tua nanti? Ada berapa banyak orangtua yang mengajarkan kepada anaknya bagaimana cara berumahtangga yang baik di kemudian hari?

Seperti yang kita ketahui bersama, terutama yang sudah menikah, masalah rumah tangga bukan hanya melulu soal finansial. Tidak ada jaminan bahwa jika sudah mapan kemungkinan besar rumahtangganya akan langgeng. Nyatanya para selebritas dan sejuta orang-orang terkaya didunia ini rentan sekali mengalami perceraian pernikahan.

Kenapa hal tersebut terjadi? Padahal jika dipikir-pikir apa kurangnya dari mereka. Secara fisik sudah pasti unggul. Begitu juga sudah pasti sehat finansial. Namun selain fisik dan finansial, ada yang lebih penting dan yang paling dibutuhkan dalam menjalani biduk rumah tangga.

KESIAPAN MENTAL

Ya, mental adalah hal yang paling utama dari sebuah kesiapan menuju pernikahan. Hal yang hampir tidak pernah disentuh dan dibahas jika ingin menikah. Kalaupun dibahas biasanya hanya sekedar ditanya : “Yakin kamu sudah siap?”

Padahal jauh lebih dalam, seseorang yang ingin menikah seharusnya terlebih dahulu berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Sesanggup apakah ia jika sudah menikah nanti? Apakah ia siap mengabdi seumur hidup kepada pasangannya? Apakah ia mampu untuk selalu mengutamakan keluarganya nanti diatas segalanya?

Terutama bagi yang sudah sangat ingin menikah muda. Apakah kamu sanggup nantinya untuk mengurangi jam nongkrong bersama sahabat-sahabatmu dikarenakan sudah sibuk mengurus pasangan dan anakmu kelak? Apakah mampu untuk menahan diri agar tidak egois untuk memilih karir yang tinggi atau sekedar ingin melanjutkan S2 atau bahkan S3? Atau tahankah kamu tidak mengeluh disaat kamu harus menahan diri untuk mengutamakan kebutuhan pasangan atau anakmu diatas kebutuhan pribadimu?

1. Sisi Wanita

Saya akan bahas dari sisi wanita terlebih dahulu. Berdasarkan pengalaman pribadi maupun rekan-rekan dan saudara-saudara saya yang telah menikah, banyak sekali kesenangan hidup yang harus kamu lepaskan demi mencapai gelar “menikah” tersebut.

Pacaran dengan menikah itu sangat-sangat jauh berbeda. Saat pacaran adalah saat dimana si penipu dan si pembohong bertemu. Yang satu (si wanita) adalah si penipu dimana kebanyakan saat masih pacaran akan menampilkan sisi yang baik-baiknya saja. Lembut, manis dan menggoda. Yang satunya lagi (pria) adalah si pembohong dimana biasanya disaat pacaran pria akan sangat memanjakan pasangannya. Selalu bisa menyenangkan pasangannya namun diam-diam selalu kehabisan uang untuk jajanin pasangannya ini dan itu.

Dari perumpamaan diatas, bisa disimpulkan kenapa saat memutuskan menikah biasanya wanita yang masih belum siap secara mental berharap bisa selamanya bahagia seperti zaman pacaran. Ia lupa bahwa setelah menikah akan banyak badai yang datang. Ia lupa bahwa ia BUKAN PRINCESS yang hidup didalam cerita dongeng dimana menikah dengan Pangeran adalah Happy Ending nya.

Padahal ketika menikah, disitu lah babak baru hidup mu. Happy Ending-nya kapan? Ya nanti ketika pernikahanmu teruji oleh waktu, mampu bertahan sampai maut memisahkan. Itulah happy ending dari sebuah pernikahan.

Ketika baru memulai pernikahan pastinya akan ada gesekan. Dari yang waktu masih gadis masih bisa bangun siang atau hanya menyiapkan kebutuhan sehari-hari untuk diri sendiri, sekarang harus mau repot untuk menyediakan kebutuhan suami juga.

Setahun awal pernikahan sudah bisa diprediksi akan ada gejolak-gejolak karena harus menyesuaikan diri dengan pasangan. Akan ada kebiasan-kebiasaan pasangan yang akan kamu anggap aneh atau nyebelin. Tapi jika kamu bisa melewati gejolak-gejolak pada setahun awal pernikahan tersebut biasanya tahun-tahun kedepannya bisa lebih baik karena kebiasan-kebiasan pasutri tersebut sudah membaur. Sudah memiliki kadar toleransinya masing-masing.

Selanjutnya pembahasan ketika si wanita mulai mengandung. Wanita akan cenderung ingin dimanja, diperhatikan dan sebagainya. Terutama apabila kehamilan yang pertama. Hormon selama kehamilan pun biasanya naik turun. Selain itu bentuk tubuhnya pun berubah. Selamat tinggal kepada tubuh yang kurus ramping, pipi yang halus dan rambut terurai. Semakin terpampang nyata perbedaan saat gadis dulu dan setelah menikah.

Dimasa kehamilan pun tidak sepenuhnya berjalan mulus. Akan ada masa-masa dimana si wanita akan mengalami kesakitan yang luar biasa. Terutama ketika kehamilan sudah semakin membesar dan mendekati tanggal persalinan. Saat melahirkan pun akan terasa sangat menyakitkan. Tapi rasa sakit itu akan segera terbayarkan dengan kehadiran si buah hati.

Namun drama kehidupan tak berakhir. Punya anak bukan berarti happy ending.

Ketika memiliki anak gejolak akan semakin luas. Kali ini kamu bukan hanya berhadapan dengan suami yang kurang paham cara mengasuh anak saja. Melainkan ada pihak mertua dan ipar yang akan menambah bumbu perdramaan itu. Akan banyak perbedaan cara dan sudut pandang dalam berumah tangga. Versi mu mengurus anak dan berumah tangga dengan versi mertua akan berbeda.

Beruntung lah bagi wanita-wanita yang memiliki mertua yang bisa bersabar mengajari dan menuntun menantunya yang masih belia tersebut tanpa perlu ada debat drama yang alot. Tapi seperti yang kita ketahui bersama, itu jarang terjadi.

Kesenjangan tersebut sangat lumrah terjadi karena memang dua wanita yang berbeda generasi tersebut pasti sangat jauh sekali sifat dan cara berpikirnya. Disinilah perlu peran suami. Beruntunglah juga jika si wanita memiliki suami yang bisa menjadi penengah antara ibu dan istrinya.

Disamping semuanya itu, ada bayi yang baru keluar dari rahim si wanita tersebut. Ia sebagai ibu baru akan kesulitan dalam membagi waktu. Sangat jarang ibu yang baru melahirkan bisa punya jam tidur yang jelas. Bayi yang baru lahir itu akan menuntut waktu dan tenaganya 24 jam. Maka tidak jarang banyak wanita yang baru melahirkan di zaman now ini mengalami Baby Blues.

Si wanita yang sedang menjadi ibu baru itu akan sakit kepala setiap membuka laman sosmed nya karena teman-teman seusianya sedang menjalani karir yang lagi bagus-bagusnya. Ada juga teman-temannya yang sedang travelling ke luar negeri. Sedangkan dia dirumah sedang sibuk berkutat menganti popok bayi dan menyusui bayi serta kurang tidur.

Seusai melahirkan dan memiliki bayi akan berlanjut lagi kedalam berbagai masalah finansial. Seperti yang kita ketahui bersama, memiliki anak juga memiliki tanggungjawab yang mengikutinya. Biaya anak di zaman sekarang tidaklah murah. Mulai dari biaya melahirkan sampai dengan perintilan seperti susu, baby stroller dan lainnya harganya tidak masuk akal.

Beruntunglah jika pasangan muda ini sehat secara finansial. Sehat dalam artian memang sudah merencanakan dengan matang soal biaya anak ini. Karena memiliki anak itu tanggungjawab nya adalah sampai si anak tersebut dewasa. Akan ada uang sekolah, uang asuransi, uang les, uang jajan, dan uang-uang lainnya. Memang ada pepatah yang bilang kalau setiap anak memiliki rezekinya sendiri. Tapi secara kasarnya, sebenarnya rezeki anak adalah biaya di kalian, para orangtua. Finansial sehat itu adalah hal yang penting. Kita sebagai orangtua yang berpendidikan sebaiknya tidak mengantungkan diri kepada orang lain, apalagi urusan finansial.

Selain itu, mental sebagai orangtua juga harus terus ditumbuhkan. Ingat, memiliki anak berarti memiliki tanggungjawab yang mengikutinya. Sebagai orangtua, terutama ibu yang biasanya paling banyak menghabiskan waktu dengan anaknya harus bisa memberikan pendidikan karakter yang baik. Harus bisa memberikan pelajaran agama yang menjadi pedoman hidup bagi anaknya kelak. Lagi, lagi dan lagi kesiapan mental sangat diperlukan dalam dunia pernikahan.

Tapi semuanya itu akan berlalu dengan baik kalau kamu sudah tahu hal-hal ini akan terjadi dan memang pasti akan berakhir. Intinya jika kamu sudah tahu hal-hal diatas, ketika kamu menikah nanti dan akan mengalami step-by-step milestone diatas kamu tidak akan terkejut lagi. Kamu sudah tahu langkah apa yang akan kamu ambil. Kamu tidak stres karena sudah tahu mau apa.

Kebanyakan wanita tidak tahu hal-hal diatas ketika memutuskan ingin menikah. Apalagi kalau wanita tersebut masih muda. Belum terlalu banyak pengalaman. Masih belum dewasa secara mental pula. Maka dari itu sangat perlu komunitas dan lingkungan positif yang bisa jadi supporter kita. Rajin-rajin ajak diskusi suami agar kalian bisa saling menguatkan menjalani gejolak awal pernikahan.

2. Sisi Pria

Saya tidak bisa terlalu mendalami perasaan pria karena saya tidak mengalaminya. Tapi berdasarkan pengamatan saya terhadap suami dan rekan-rekan pria saya, tidak jauh berbeda dengan wanita. Pria pun mengalami culture shock pasca menikah juga.

Pria yang ketika lajang tidak lagi bisa menggunakan uangnya dengan sepuasnya. Uang yang telah dikumpulkan sekian tahun harus dengan lapang dada dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Uang untuk biaya entertainment atau sekedar memuaskan hobi terpaksa ditahan dulu.

Pria yang ketika menikah juga biasanya berpikir inilah akhir dari segalanya. Dia yang berharap dilayani bak layaknya PRINCE harus rela untuk mengalah karena nyata sang istri akan sibuk mengurus anak beserta perintilan rumah tangga lainnya. Ternyata ia baru menyadari bahwa menikah bukan hanya diisi oleh aktivitas “seks” semata.

Pria yang sudah menikah juga harus bisa pandai untuk berdiskusi dengan istri terkait pemilihan karier apabila karier tersebut mengharusnya untuk kerja diluar kota atau bahkan luar negeri. Ia tidak bisa lagi dengan leluasa berpetualang. Karena pada dasarnya Long Distance Marriage tidak pernah mudah untuk dijalani. Beruntunglah pria tersebut bila memiliki istri yang mandiri dan dewasa.

Namun pada dasarnya, sama seperti wanita. Ketika dari awal sudah mengetahui drama-drama seperti diatas, pria tidak akan terkejut lagi. Tidak perlu lagi ada drama pertengkaran karena pria sudah dari awal diwanti-wanti untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap emosi yang dirasakan.

Pria yang akan dan sudah menikah diharapkan mampu menangani istri yang sedang emosional ketika hormon istrinya sedang naik turun saat hamil maupun pada saat pasca melahirkan. Juga sebagai pengingat bahwa pria adalah kepala rumah tangga. Harus stabil secara mental dan finansial agar bisa memimpin dan membawa istri serta anak-anaknya ke kehidupan yang baik.

3. Kesimpulan

Menikah bukan untuk coba-coba. Begitu pun ketika memutuskan untuk memiliki anak. Perlu persiapan yang matang dan kontemplasi yang panjang apakah diri kita sudah mampu dan cakap ketika nanti menghadapi gejolak rumah tangga. Baik dari segi mental maupun finansial.

Bait-bait tulisan terkait drama-drama diatas memang sebagian besar akan dilewati setiap orang dalam pernikahannya. Bukannya mengeluh, namun itulah realita kehidupan. Tujuannya bukan menakuti-nakuti orang yang hendak menikah.

Namun alangkah lebih baik jika kamu sedari dini sudah tahu apa yang akan dihadapi. Sadar diri untuk mengetahui apakah sudah mampu dan tahu akan melakukan apa seandainya skenario drama di atas terjadi dihidupmu.

Menikah memang menyenangkan. Tapi pernikahan yang menyenangkan itu bukan datang dari langit. Ada usaha yang tinggi untuk bisa mewujudkan pernikahan yang bahagia. Ada usaha yang keras, baik dari pihak istri maupun pihak suami.

Jika terjadi sesuatu dalam hubungan keluarga, sebisa mungkin diselesaikan dahulu oleh pasutri tersebut. Bicarakan baik-baik dari hati ke hati. Sebisa mungkin hindari membicarakan pertengkaran kalian dengan orang tua masing-masing. Orang yang berani menikah adalah orang yang dewasa. Orang dewasa harusnya mampu menyelesaikan masalah sendiri tanpa melibatkan orang tua.

Kalau ada masalah, berusahalah menganggap setiap masalah tersebut adalah ajang kalian berlatih sebagai pasutri. Jika kalian berhasil melewati masalah demi masalah, kalian akan terbiasa dan menjadi semakin kuat didalam pernikahan. Apapun masalah yang akan menghadang didepannya nanti, kalian tidak akan goyah karena masing-masing kalian sudah kuat secara mental.

Selamat berproses dengan pernikahanmu ya. Salam bahagia!

🌿Pernikahan yang bahagia itu diusahakan,
bukan datang dari langit🌿

-BF-

11 tanggapan untuk “Apa Rasanya Menikah?

  1. Setuju, pernikahan yang bahagia harus diupayakan sendiri, bahkan ketika usia pernikahan memasuki kepala 2, 3, 4, dan seterusnya karena akan selalu akan ada ujian. Pernikahan merupakan dunia yang dinamis 🙂

    Suka

  2. Menikah itu bukan asal cocok pilih pasangan karena suatu hal. Bisa aja dia jaim pas pacaran, tapi jadi jahil setelah menikah, haha..

    Yang penting sih tau karakter satu sama lain aja. Kalo ada masalah ya diomongin bukan ditinggalin.

    Eh udah ya. Kok kepanjangan. Wkwk.. Gemes kalo udah bahas nikah nih.

    See yaa..

    Disukai oleh 1 orang

  3. Sebelum menikah saya ya timbang timbang untuk melangkah karena merupakan keputusan besar. Butuh keyakinan dan meyakinkan diri, dibantu orang-orang sekitar. Tapi memang benar ketika sudah menikah, rasanya lega,menjadi lengkap.

    Disukai oleh 1 orang

  4. menikah itu kompleks, dan gak sesederhana seks halal, tapi itu ada peristiwa hukum, bahkan kalo dalam agama islam, ketika akad terucap itu “arsy Allah” atau singgasana Allah sampai bergetar. makanya untuk hal yang sebesar itu, perlu persiapan yang baik dan matang, dari segi internal maupun eksternal 😀

    Disukai oleh 1 orang

  5. Aku ga tau rasanya punya mama dan papa mertua karean mereka sudah tiada, terutama mama pertua yang meninggal tepat dua minggu menjelang akad nikahku dan suami. Menikan memang ga mudah, banyak senang, ada juga pertengkaran, namun itulah bumbu2 kehidupan bersama pasangan kita, yang insya allah hingga maut menjemput 🙂

    Suka

  6. kalo ngomongin soal menikah emang berat sih.. soalnya banyak yg perlu dipertimbangkan,. bahkan kebanyakan orang di Jepang (khususnya wanita) takut untuk menikah, karena seperti yg mbak bilang di atas, setelah menikah maka banyak hal yg harus dikorbankan/dibuang

    Disukai oleh 1 orang

  7. Kalau ngomongin pernikahan memang kayaknya bakal panjang banget ya, banyak hal yang harus diperhatikan dan dipikirkan. Aku dan pasangan yang udah sering ngomongin hal ini pun merasa bahwa nantinya ketika menikah akan ada banyak hal yang terjadi.

    Terutama masalah mental dan finansial. Sebagai pasangan yang LDR karena pekerjaan dan kemungkinan besar akan LDM nantinya, masalah jarak ini sudah kami diskusikan sih. Tapi memang pernikahan pasti akan sulit, makanya sejak masih pacaran seperti sekarang kami pun sudah sering diskusi nanti bagaimana mengatur uang, cara mendidik anak, dan hal-hal lain. Yah… walaupun cuma pengandaian tapi paling tidak ketika menikah, kami sudah punya bekal

    Disukai oleh 1 orang

  8. Wah setuju banget, menikah bukan untuk bermain-main. Apalagi saat ini banyak orang yang pengen banget nikah karena capek dengan urusannya sendiri, padahal di pernikahan itu tantangannya jauh lebih keras dibandingkan dengan urusan sendiri. Akan ada anak, suami atau istri, keluarga besar, mertua, tetangga, dan lain sebagainya. Harus sudah benar-benar siap dan yakin untuk melangkah kesana

    Disukai oleh 1 orang

  9. Menikah itu menurutku butuh kesiapan yang sangat besar, karena nantinya akan dijalani seumur hidup dan yang dihadapi ya bersama pasangan dan seterusnya seperti itu. Selain kesiapan diri, pertimbangan untuk selalu siap menghadapi hal-hal faktor eksternal spt keluarga, tetangga, jg perlu dibicarakan bersama.

    Suka

  10. Memang untuk menikah benar-benar harus dipikirkan secara matang. Banyak pertimbangan, mulai dari faktor internal hingga eksternal.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Marfa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s