RESENSI BUKU : Marie Kondo (The Life-Changing Magic of Tidying Up)

Minimalisme.

Apa itu Minimalisme?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Minimalis memiliki arti “berkenaan dengan penggunaan unsur-unsur yang sederhana dan terbatas untuk mendapatkan efek atau kesan yang terbaik”. Jadi, dengan makna yang lebih ringkas bisa kita simpulkan bahwa minimalis berhubungan dengan sesuatu yang dibuat seminimal mungkin untuk mencapai hasil yang maksimal.

Dilansir dari website www.theminimalists.com/minimalism/ , Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus (Duo Kombo Minimalist Influencer terbesar didunia) menyatakan bahwa

Minimalism is a tool that can assist you in finding freedom. Freedom from fear. Freedom from worry. Freedom from overwhelm. Freedom from guilt. Freedom from depression. Freedom from the trappings of the consumer culture we’ve built our lives around. Real freedom.

That doesn’t mean there’s anything inherently wrong with owning material possessions. Today’s problem seems to be the meaning we assign to our stuff: we tend to give too much meaning to our things, often forsaking our health, our relationships, our passions, our personal growth, and our desire to contribute beyond ourselves. Want to own a car or a house? Great, have at it! Want to raise a family and have a career? If these things are important to you, then that’s wonderful. Minimalism simply allows you to make these decisions more consciously, more deliberately.

So, kalau kita harus meringkasnya, Minimalisme adalah alat untuk melepaskan diri dari keberlebihan hidup demi berfokus pada apa yang penting sehingga kita dapat menemukan kebahagiaan, kepuasan dan kebebasan.

Setelah kita pahami maknanya, hal apa yang paling kita sadar? Kalau saya pribadi, saya langsung tersadar bahwa saya memiliki banyak barang. Terutama saat saya masih tinggal dengan orangtua saya. Bahkan sampai saya berumahtangga, sebelum saya mengenal Gaya Hidup Minimalis (sekitar 3 tahun yang lalu), saya ternyata “Kolektor Barang Sejati”.

Pada dasarnya saya bukan seseorang yang “berantakan”. Saya tergolong orang yang terorganisir. Bahkan suami saya sampai menjuluki saya “OCD Kebersihan”. Namun saya sadari, meskipun rumah saya bersih, saya rajin membersihkannya, saya sapu, pel, lap semua sisi rumah, tetap saja rasanya sumpek. Rasanya penuh. Tidak ada rasa lapang dan puas setelah selesai berbenah.

Singkat cerita, sekitar awal tahun 2019 saya berkenalan dengan Gaya Hidup Minimalis. Saya dan suami menerapkan sampai dengan hari ini dan kami tidak keberatan untuk tetap seperti ini sampai akhir hayat kami. Disaat kami berdua sedang mengumpulkan referensi seperti apa Gaya Hidup Minimalis diawal-awal dulu (karena kami bingung harus memulainya seperti apa), kami menemukan sebuah buku pelajaran berbenah dari Influencer Minimalis asal Jepang, Marie Kondo di Toko Buku Gramedia.

Marie Kondo

Buku Marie Kondo yang berjudul “The Life-Changing Magic of Tidying Up) merupakan #1 New York Time best seller dan telah terjual lebih dari 5 juta kopi diseluruh dunia. Melalui buku ini, Marie Kondo mengeluarkan teknik seni berberes dan metode merapikan ala Jepang yang dia namakan “KonMari Method”.

Keampuhan metode KonMari ini telah banyak diterapkan oleh orang diseluruh dunia. Orang-orang yang merasa dirinya berantakan, penimbun barang, dan hoby berbelanja akan sangat terbantu jika mempelajari kiat-kiat sukses didalam buku ini. Saking ampuhnya, disebutkan bahwa tak seorang pun klien dari Marie Kondo yang rumahnya didatangi langsung oleh Marie untuk dibantu berbenah kembali ke kebiasaan berantakan.


Isi buku Marie Kondo terbagi menjadi 5 bagian :

1. Kenapa Kita tidak bisa menjaga kerapian?

Kita sedari kecil diajarkan oleh orangtua kita untuk merapikan kamar, bahkan kita dimarahi ketika tidak melakukannya. Tapi berapa banyak dari orangtua kita yang secara khusus mengajarkan cara berbenah yang baik kepada anak-anaknya? Bukan hanya dirumah, disekolah pun kita tidak diajarkan. Ketika menyangkut urusan berbenah kita biasanya otodidak. Mau jumlah barangnya sebanyak apa, yang penting harus rapi. Ntah barang itu berguna atau tidak, sudah usang apa masih baru, yang penting harus rapi. Standard kerapian sendiri kembali ke selera pribadi masing-masing.

Marie mengatakan bahwa dalam berbenah, hanya dua aktivitas yang paling utama yaitu memutuskan untuk membuang suatu barang atau tidak, kemudian memutuskan hendak menyimpannya dimana

2. Membuang sampai tuntas terlebih dahulu

Sebelumnya, kita dianjurkan untuk berpikir secara konkret seperti apa bayangan kita secara gamblang bagaimana rasanya tinggal dihunian yang tidak berantakan. Kemudian, kriteria seleksi yang paling penting adalah apakah barang-barang tersebut membangkitkan kegembiraan bagi kita atau tidak. Ingat, lakukan hal ini pada setiap barang yang ada dirumah. Bahkan untuk peniti sekalipun.
Jadi begitu kamu sudah memutuskan barang mana yang mau dibuang, jangan ragu-ragu.

3. Berbenah berdasarkan Kategori

Marie menyarankan agar berbenah sesuai urutan kategori yang tepat yaitu:
Pakaian, Buku, Kertas, Pernak Pernik dan terakhir kenang-kenangan.

A. Pakaian
Untuk pemilahannya dibagi kembali menjadi beberapa subkategori yaitu
* Atasan (kemeja, sweter, dll)
*Bawahan (celana panjang, rok, dll)
*Kaus Kaki
*Baju Dalam
*Tas (Tas Jinjing, Tas Selempang, dll)
*Aksesoris (syal, sabuk, topi, dll)
*Pakaian untuk acara khusus (baju renang, kimono, seragam, dll)
*Sepatu

Bahkan Marie juga mengajarkan bagaimana cara melipat baju, celana, kaus kaki dll agar tertata rapi didalam lemari dan tidak memakan tempat. Hal ini sudah saya terapkan dirumah kami, alhasil selain lemari rapi dan gampang mencari pakaian/celana, kami jadi jarang menyetrika baju.

B. Buku
Bagi buku kedalam 4 subkategori :
*Umum (Buku yang anda baca untuk hiburan)
*Praktis (Buku referensi, buku masakan, dll)
*Visual (Koleksi Foto, dll)
*Majalah
Begitu sudah anda kelompokkan, pilihlah buku yang mana yang masih ingin disimpan dan mana yang hendak dibuang atau dihibahkan.

Marie memberi saran, bahwa kali pertama menjumpai buku adalah saat yang paling tepat untuk membacanya. Pasti tau kan maksudnya apa?😃👌

C. Kertas
Bagi kertas-kertas menjadi 2 kategori yaitu
Kertas yang harus disimpan dan kertas yang harus diurus. Selain itu buang. Simpan semua kertas yang perlu disimpan pada satu tempat. Jangan biarkan kertas-kertas tersebut bertebaran dia area lain dirumah. Untuk wadah penyimpanan bisa menggunakan kotak arsip vertikal yang ditata tegak lurus.

D. Komono (Pernak-pernik)
Urutan mendasar untuk memilih komono adalah sebagai berikut:
*CD/DVD
*Produk Perawatan Kulit
*Rias Wajah
*Aksesoris
*Barang berharga (paspor,kartu kredit,dll)
*Alat elektronik yang kecil (kamera digital, kabel listrik, dan apa saja yang kurang lebih dapat dikategorikan sebagai “peralatan listrk”)
*Peralatan rumahtangga (alat tulis, alat jahit)
*Perlengkapan rumah tangga (barang sekali pakai seperti obat, deterjen, tisu, dll)
*Alat daput atau alat makan (spatula, panci, blender, dll)
*Lain-lain (uang receh, pajangan, dll)
Dan semisalnya kita memiliki banyak barang yang terkait hobi atau minat tertentu, sebaiknya kelompokkan barang-barang tersebut ke dalam subkategori tersendiri.

E. Barang Sentimentil
Apabila ketika berbenah terkait kategori Komono ini, pastikan barang-barang yang akan di keep bukan hanya sekedar karena “kepingin saja”. Melainkan barang tersebut harus membangkitkan rasa bahagia. Terutama jika menyangkut barang-barang yang bersifat sentimentil seperti barang peninggalan saudara dsb.

Marie Kondo berpesan : “Yang harus kita hargai baik-baik bukanlah kenangan, melainkan diri kita yang sekarang”.
Pelajaran inilah yang mesti kita petik saat menyortir kenang-kenangan.

4. Mencerahkan Hidup dengan Menyimpan secara apik

Selain memberikan kategori kepada barang-barang dirumah kita, penting sekali untuk kita tahu bagaimana cara menyusun barang-barang tersebut agar tersusun apik. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh Marie Kondo :

A. Tempat tersendiri untuk Tiap Barang
Ini berati bahwa kita harus menentukan semua barang harus diletakkan dimana dan konsisten untuk terus mengembalikan barang tersebut ketempatnya begitu tugas dan fungsi dari barang tersebut selesai kita pergunakan. Silahkan dicoba. Anda pasti akan terkejut sendiri melihat hasilnya, bahwa Anda takkan lagi membeli barang melebihi kebutuhan, karena jika tempat penyimpanan sudah overload pasti rumah Anda akan langsung terasa berantakan lagi.

B. Buang Dahulu, Simpan Belakangan
Selalu berprinsip bahwa bukan ruang penyimpanan yang tidak cukup, atau bukan rumah kita yang kurang besar, namun kita memiliki barang yang melampui yang kita butuhkan atau inginkan. Jadi, mulailah dengan membuang semua barang yang tidak anda perlukan secara tuntas tanpa ragu. Anda akan bingung, kenapa rumah anda menjadi lenggang😀

C. Simpan Barang dengan Tatanan Sesederhana mungkin
Hal ini harus kita lakukan agar kita bisa mempertahankan kerapian. Dengan tatanan sesederhana mungkin, kita bisa mengetahui dengan sekilas pandang berapa banyak barang yang kita miliki.

D. Jangan Menyimpan di Tempat yang Tersebar-sebar
Aturan kesekian : “Simpan semua barang sejenis di satu tempat dan jangan menyimpan ditempat yang tersebar-sebar”. Kembali ke jenis 5 kategori pada bagian buku ke tiga diatas. Selalu ingat itu.

E. Simpan secara Vertikal, Jangan Ditumpuk
Marie Kondo selalu menyimpan barangnya secara vertikal daripada menumpuknya. Dia memiliki dua alasan. Pertama, karena jika kita menumpuk barang, tempat penyimpanan akan terkesan tak ada habis-habisnya. Barang bisa ditumpuk terus menerus sehingga kita akan luput memperhatikan jumlahnya yang kian bertambah. Namun, jika kita menyimpan secara vertikal, tiap penambahan akan memakan tempat kesamping sehingga kelihatan apabila sudah penuh. Begitu kehabisan tempat penyimpan, kita pasti langsung sadar dan membatin “WAH SAYA SUDAH MULAI MENUMPUK BARANG LAGI..”

F. Tidak Perlu Membeli Barang khusus untuk Menyimpan
Nah, poin yang terakhir ini bagi saya sangat relatable. Alih-alih ingin membuang barang, malah menumpuk barang baru dengan alasan sebagai wadah untuk menyimpan. Bukannya menjadi minimalis, malah mubazir. Apalagi, saat ini gaya hidup minimalis diidentikkan dengan perabot-perabot yang serba eco dan kekinian. Coba saja search di tokopedia atau shopee Anda, apa saja barang-barang perlengkapan rumah tangga minimalis itu. Pasti yang keluar adalah barang-barang mewah dengan design minimalis namun tidak minimalis di kantong. Saya sarankan, dan tentunya terinsipirasi Marie Kondo, pergunakan barang yang sudah tersedia dirumah Anda terlebih dahulu sebagai wadah penyimpanan. Jangan terkecoh dengan influencer minimalis yang banyak seliweran di SosMed. Yang paling tahu kebutuhanmu adalah dirimu sendiri. Influencer-influencer tersebut membeli barang-barang minimalis tersebut karena memang pekerjaan mereka ada menjual konten. Kamu belum tentu butuh barang-barang itu. Jika masih bisa dipakai untuk apa diganti? Jangan gengsi-gensi ya😀

5. Keajaiban Berbenah Mengubah Hidup Anda secara Dramatis

Pada bagian terakhir ini, saya akan bercerita dari sudut pandang saya sendiri sebagai orang yang sudah menerapkan “KonMari Method’’ ini selama 3 tahun terakhir. Yang paling saya sadari adalah saat saya dan suami berbenah adalah kami jadi mengenal siapa diri kami sebenarnya. Apa yang saya sukai dan apa yang dia sukai. Ternyata kami dua makhluk yang sangat berbeda latar belakang, kesukaan, dan pandangan. Namun kami juga adalah dua makhluk yang pada akhirnya berdamai dengan keadaan dan menerima perbedaan itu sehingga jika dibilang kami adalah pasangan yang berbahagia (amin!)

Saya sarankan untuk yang sudah menikah dan memiliki rumah sendiri, berbenah lah dengan pasangan atau partner sehingga kalian bisa saling semakin bonding satu sama lain. Dan yang masih tinggal dengan orangtua, berbenah bersama-sama sekeluarga. Sepakati penyusunan kategori barang-barang yang ada disetiap sudut rumah bersama-sama. Saya dan suami sadari bahwa hal-hal yang kami sukai tidak berubah seiring berjalannya waktu. Berbenah rumah adalah cara yang ampuh untuk menguak apa yang menjadi fokus kesukaan kita.

Saya dan suami benar-benar mengikuti step by step yang diajarkan Marie Kondo, meskipun ada beberapa yang kami modifikasi karena kami sesuaikan dengan kebutuhan kami. Apalagi budaya kita Indonesia tidak mungkin sama 100 persen samadengan budaya Marie Kondo yang berasal dari Jepang.

Dengan berbenah hidup kami berubah. Yang paling terasa adalah keputusan kami saat pindah tempat tinggal dan memutuskan untuk membeli rumah yang sangat minimalis luasnya, mengingat kami hanya tinggal berdua saja. Kami juga sengaja mendesign rumah kami sesimple dan sefungsional mungkin agar tidak ada ruang yang sia-sia. Meskipun design rumah kami tidak se-aestetic para influencer di Sosmed, namun kami bangga. Bangga karena dengan keputusan ini, kami berhasil untuk mengalahkan ego kami dan menghemat tabungan kami, bahkan kami membeli rumah dengan kontan (tanpa KPR).

(Untuk cerita pengalaman tinggal dirumah ukuran minimalis akan saya ceritakan di blog berbeda)

Habit kami juga berubah. Karena setiap bagian rumah kami memiliki ruang dengan fungsinya masing-masing, kami jadi sangat selektif dalam membeli perlengkapan dan furniture. Jika memang tidak terlalu perlu, kami tidak ambil pusing untuk harus memaksakan diri membelinya. Kami juga tidak ambil pusing akan omongan orang kenapa dirumah kami tidak ada sofa. Ya karena memang kami tidak perlu. Kami tuan rumahnya, kami yang paling tahu apa yang sudah pasti kami sering gunakan dirumah. Jadi untuk apa memikirkan penilaian oranglain? 😅✌️

Dengan gaya hidup ini, saya dan suami juga jauh dari kata stress. Stress karena tidak bisa membeli suatu barang bukanlah kebiasaan kami lagi. Mengejar hal-hal seperti fashion, gadget terbaru, diskon bukan sesuatu hal yang harus kami pikirkan. Selagi masih bisa dipergunakan, tidak ada bagian yang rusak, untuk apa diganti?

Dengan berbenah, kami menjadi tahu apa arti minimalisme sesungguhnya. Karena dengan menerapkan gaya hidup minimalis sesungguhnya bukan hanya sekedar menggunakan barang-barang kekinian yang dicatut minimalisme saja. Standard minimalis tiap orang pun berbeda-beda karena setiap orang berbeda kebutuhan dan prioritasnya apa. Yang paling penting, kita harus atau apa fokus kita, apa kebutuhan kita dan jangan terpengaruh dengan hal-hal yang diluar kemampuan kita. Mari belajar mencukupkan diri. Mari setia menggunakan barang sampai rusak. Hargai setiap barangmu. Sayangi setiap uang yang kamu keluarkan untuk membeli sesuatu. Karena percayalah, uang yang kamu keluarkan meskipun keliatannya kecil tapi jika diakumulasi mampu membeli barang kebutuhan pokok yang lebih penting, Rumah contohnya❤️

Untuk kamu yang penasaran dengan cara Marie Kondo menyusun, melipat, mengoorganisir barang-barang berikut videonya :

Selain itu, Marie Kondo ini juga punya Netflix Series loh. Dimana setiap kliennya yang minta pertolongan kepada Marie Kondo untuk berbenah, akan dibuatkan satu episode. Kalau kalian belum nonton, wajib nonton ya. Kebanyakan klien Marie didalam serial itu adalah keluarga dengan rumah yang sudah seperti kapal pecah. Kalian tentu tidak mau menunggu sampai rumah kalian seperti itu kan? 😀

Selamat Mencoba! Selamat berpetualang dengan dirimu

The Less is More

22 tanggapan untuk “RESENSI BUKU : Marie Kondo (The Life-Changing Magic of Tidying Up)

  1. Waah, mantap nih gaya hidupnya kak. Sayapun juga seorang minimalist kak, tapi blm bisa totalitas seperti Marie Kondo atau Fumio Sasaki..masih butuh banyak banget latihan.. thanks sharingnya ya kak

    Suka

  2. Selamat ya Kak, bersama suami sudah menerapkan hidup minimalis ini. Merasa lapang dan lega pasti ya…
    Inspiratif memang Marie Kondo ini. Kalau dipikir enggak semua barang yang ada di rumah kita itu benar-benar kita butuhkan. Kadang hanya kita inginkan. Akhirnya numpuk enggak karuan.
    Aku saat pandemi karena banyak di rumah saja jadi sortir barang…ya ampun beneran bertahun cuma ngerapiin doang tapi ga pernah dibenahi, yang ada nambah terus sampai penuh dan puyeng lihatnya. Mana sudah berempat sama anak-anak pula di rumah.
    Meski susah aku masih dalam proses terus berusaha meminimalkan hidup nih..semoga segera bisa lebih baik

    Suka

  3. Sama Kak, gak punya sofa juga hehehe.
    Setelah baca resensi ini sepertinya perlu buka lemari buat menyensor mana barang yang harus dibuang. Sudah lamaa gak beberes dengan detail.

    MAkasih resensinya.

    Suka

  4. bukan ruang penyimpanan yang tidak cukup, atau bukan rumah kita yang kurang besar, namun kita memiliki barang yang melampui yang kita butuhkan atau inginkan. –> Nah, ini loh yang susah untuk menerapkan ke suamiku. Dia seneng banget beli barang2 collectible dengan alasan investasi, kapan2 bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Alesan sih sebenarnya, tapi ya itu susaaah untuk mengubahnya. 🙂 Padahal aku suka yang simpel2 aja barang di rumah. Perawatan juga ga ribet kan ya kalau minimalis.

    Suka

  5. Sebentar, sebentar …. Sepertinya ada yang salah dengan diri saiaaaa niih. Bhahahaha! Saya tak punya banyak barang sebenarnya, sengaja tak pernah beli baju sepatu atau apa pun itu yang tak saya butuhkan (sebenarnya lebih ke tidak punya duit buat belinya, siih hihihi …) namuuuun, rumah terasa penuuuh buku. Hahahaa .. bukan kerap beli, tetapi kerap mendapatkannya plus beberap bukter juga … Wah, ini yang salah rumahnya atau saiaa?

    Suka

  6. Buku kereeeen. Tapi nerapinnya tak semudah itu, hehe…. Apalagi kalau masih tinggal di rumah ortu. Acara beberes jadi seperti tak berkesudahan saking banyaknya barang sentimentil 😀

    Poin F tuh terjadi padaku 😀 Setiap kali beberes, adaaaa aja godaan buat beli barang ini itu sebagai tempat penyimpanan. Box container buat ngeganti kardus dan kresek (lebih rapi dan keren kan kalo pake box transparan begono). Lemari pakaian yang slim minimalis buat mengganti lemari jadul yang besar, dsb. Tapi untungnya cuma sebatas dalam keinginan 😀 Kembali lagi ke jalan yang benar: Memanfaatkan yang ada dan mengeluarkan yang sudah tidak dipakai.

    Suka

  7. Benar juga sih, kita selalu diminta orang tua untuk berbenah, beberes, tapi nggak sama sekali diajarkan bagaimana caranya, yang penting keliatan rapi aja. Makanya jadi muncul bbrpa tipe orang kalau beberes, kayak suami dia mh beberes dengan cara menyingirkan ke samping misal lagi beberes ruang tengah, padahal beberes itu ya harusnya meletakkan barang2 ke tempatnya semula. wkwk.. Tapi kemarin setahu aku Marie ini bukan penganut Minimalis sih mbak, dia cuma ngajarkan bagaimana hidup rapi aja. Kalau Fumio baru iya. CMIIW

    Suka

  8. Nggak usah beli barang penyimpanan khusus nan baru. Iya juga sih. Alih alih mau tapi malah jadi menumpuk barang-barang lagi dan rumah jadi berasa penuh lagi. Aku sedang berusaha mengurangi acara beli-beli barang nih, karena mulai merasa penuh aja rumah. Eh tetiba ada aja hadiah yang datang dibawa ortu buat jadi perabotan di rumah. Hihi.

    Buku yang perlu dibaca untuk seenggaknya memulai hidup sederhana ala minimalism.

    Suka

  9. Jujur saja, Saya sangat setuju soal hal ini. Sulit memang menerapkan hidup minimalis, terutama saya sebagai cewek yang suka banget beli baju, kerudung, aksesoris, dsb. Tapi akhirnya udah bisa. Btw, selamat mba, sudah bisa menerapkan hidup minimalis nya!

    Suka

  10. Makjleb, aku merasa tersindir nih. Pakaian adalah hal yg susah nih diminimalisir. Suka bingung sendiri utk rapiin dan ngurangin nih. Aku mau coba mulai deh dari skrg

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Agustina Purwantini Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s