Seni Mengontrol Ekspektasi

Berapa banyak dari kita yang sering berekspektasi tanpa sebenarnya menyadari bahwa memiliki ekspektasi tertentu terkadang membuat kita patah semangat setelah tahu hasil yang didapat ternyata jauh melenceng?

Ya, kita manusia sering sekali melakukan hal tersebut. Kita sering berekspektasi jauh ke depan tanpa sadar bahwa segala sesuatu yang sudah kita kerjakan dengan susah payah sekalipun tidak cukup menjamin bahwa hasil yang didapat sesuai dengan yang diekspektasikan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengar sebuah Podcast yang menarik. Podcast tersebut mengangkat tema yang umum tapi menurut saya jarang kita sadari yaitu Seni Mengontrol Ekspektasi. Sampai dengan Podcast ini saya dengarkan, saya pribadi tidak menyadari ternyata ekspektasi pun harus kita kontrol.

Saya 100% sangat setuju dengan semua yang diperkatakan pada Podcast tersebut. Kita sebagai manusia cenderung berharap sesuatu yang bagus ketika sudah menyelesaikan tugas ataupun hal yang menuntut effort kita. Dan saya tidak sadar bahwa selama ini saya sedikit banyak telah melakukan kontrol terhadap ekspektasi saya pribadi.

Sedari kecil saya memang tidak pernah memiliki cita-cita tertentu. Dimana jika dulu saat masih kecil, kebanyakan kita sering diajarkan untuk menyebutkan “Dokter” , “Hakim”, “Pengusaha Sukses” dan profesi apapun yang bonafit ketika ditanyai apa cita-cita kita dimasa depan. Saya pribadi sedari kecil selalu terdiam ketika ada orangtua yang bertanya kepada saya seperti itu.

Jujur saja saya bingung atas pertanyaan tersebut karena sebagai anak kecil saya tidak memiliki gambaran apapun sehingga tidak berekspektasi apapun. Yang saja tahu saya harus belajar sungguh-sungguh, memiliki pergaulan yang baik dan tidak lupa untuk beribadah. Sesederhana itu saja tanpa ada ekspektasi berlebihan.

Seiring dengan bertambahnya usia, sama seperti kebanyakan orang bertumbuh dewasa saya mulai menetapkan goals dalam hidup saya. Seperti ingin masuk ke SMA Negeri favorit, kemudian masuk ke PTN Negeri Favorit sampai bisa mendapatkan pekerjaan favorit. Semua hal itu saya perjuangkan tanpa saya tahu sebenarnya takaran favorit itu apa.

Setiap kali mengikuti test masuk sekolah, kuliah maupun tes rekrutmen bahkan ketika saya sedang ada project pekerjaan yang berat sekalipun, saya selalu berpikiran bahwa:

Jika hasilnya baik, harus bersyukur kepada Tuhan karena atas kebaikan-Nya maka saya berhasil mendapatkan hasil yang baik. Namun jika hasilnya buruk, saya tidak boleh menyesal karena saya tahu bahwa saya sudah berusaha dengan baik dan mengerjakan setiap bagian saya dengan maksimal. Dan jikalau mendapatkan hasil yang terburuk sekalipun, mungkin ini sudah waktunya karena selama ini hidup saya selalu dimudahkan Tuhan

BFN

Dan nyatanya, setiap kali saya dihadapkan pada situasi demikian yaitu merendahkan ekspektasi saya, saya merasa lebih tenang dan damai sejahtera. Dan seringkali hasilnya malah baik karena dari awal ekspektasinya sudah di setting untuk tidak berharap berlebihan.

Contohnya pada saat dahulu mengikuti test rekrutmen BUMN saya sangat low expectation terhadap hasilnya. Karena pada saat itu keadaan sangat sulit mengingat saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta besar Indonesia. Saat itu sangat sulit untuk meminta izin untuk dapat mengikuti test rekrutmen pada atasan.

Begitupun saat ada re-organisasi dikantor setahun yang lalu, saya sangat low expectation terkait kemana saya akan dimutasi. Apakah masih tetap dekat dengan keluarga atau malah dimutasi ketempat yang jauh. Meskipun dalam hati saya sangat ingin tidak dimutasi ketempat yang jauh. Namun saya sekali lagi merendahkan ekspektasi agar tidak terlalu kecewa ketika hasilnya buruk.

Kemudian pada saat mengubah lifestyle yang semula hanya ingin hidup sehat saja tanpa ekspektasi apa-apa, malah dipermudah Tuhan dengan bertemu orang-orang yang baik berbagi ilmu dan mendapat bonus menjadi sedikit langsing.

Juga dahulu ketika memulai menulis blog, ekspektasi akan antusias orang-orang terhadap tulisan saya sangatlah kecil. Saya sadar diri saya hanyalah orang yang biasa-biasa saja. Bukan influencer, bukan tokoh penting, bukan orang yang kaya raya. Niatan saya adalah berbagi sedikit pengalaman hidup tanpa ada ekspektasi apa-apa. At least, saya ada meninggalkan legacy yang baik dikemudian hari untuk siapapun yang singgah di blog saya.

Namun ternyata, baik keluarga, sahabat, semua orang di circle saya bahkan orang yang sama sekali saya tidak kenal ternyata sangat memberikan feedback yang positif terhadap tulisan-tulisan saya. Bahkan ada beberapa yang sudah menjadi pembaca setia dan aktif memberikan komentar serta mengajak untuk berdiskusi lebih dalam.

Seni mengontrol ekspektasi ini sangat perlu untuk kita terapkan dalam berbagi hal dan segala aspek kehidupan kita. Hal ini dikarenakan kita saat ini hidup pada dunia yang serba digitalisasi. Orang-orang tidak ragu untuk sharing/posting setiap prestasi, kebahagiaan, pencapaian hidup yang didapatkannya disosial media. Kadang pun saya melakukannya. Dan itu sah-sah saja.

Yang salah adalah ketika kita melihat kesuksesan orang lain dan menginginkan kesuksesan itu karena terkesan menjadi sukses itu “gampang“. Dan jika kita sudah mengikuti langkah-langkah kesuksesan dari orang tersebut dan hasilnya tidak baik, kita cenderung menyalahkan diri sendiri. Atau lebih buruknya lagi menjelek-jelekan orang sukses tersebut, berpikiran bahwa orang tersebut sukses dengan cara yang tidak halal, dsb.

Gampang karena hampir setiap hari kita melihat disosial media bahwa didunia ini sekarang orang-orang gampang untuk sukses. Otak kita cenderung mendefenisikan sukses itu gampang, karena tren di sosial media saat ini menyuguhkan konten-konten flexing yang tidak ada ujungnya. Inilah kenapa banyak orang yang terjebak investasi bodong seperti kasus Binomo yang sempat viral kemarin.

Nyatanya, orang-orang sukses sangat jarang menunjukkan bagaimana proses menjadi sukses itu. Dan orang-orang sukses pun jarang memamerkan apa yang dicapai atau apa yang dimilikinya. Mereka terkesan biasa-biasa saja sambil terus berusaha, bekerja dan berbuat baik tanpa diketahui khalayak ramai. Tapi sekali menunjukkan prestasi dan kesuksesannya, kita yang orang biasa ini akan dibuatnya menganga.

Maka dari itu, sangat penting untuk kita tetap mengontrol ekspektasi kita. Jika kita dihadapkan pada musim kehidupan dimana kita sudah berusaha keras namun hasilnya biasa-biasa saja ataupun hasilnya buruk, jangan kecil hati. Memang akan ada saatnya kita diatas dan ada saatnya kita dibawah.

Sekalipun usaha mengkhianati hasil memangnya kenapa? Jadi orang yang biasa-biasa saja ‘kan tidak berdosa toh?

Tidak semua kesuksesan yang kita lihat itu datangnya cuma-cuma. Pasti ada sesuatu hal yang sudah diupayakan dengan usaha yang keras, hanya saja tidak terlihat dan memang sengaja tidak untuk dipamerkan.

Seperti saya yang dahulu dituduh masuk ke perusahaan BUMN karena nyogok padahal orang-orang tersebut tidak tahu susahnya saya belajar siang dan malam. Mereka-mereka yang hanya tahu hasil akhirnya saja tidak pernah tahu perjuangan saya menekan ego untuk tidak bergaul, menunda kesenangan karena lebih memilih untuk fokus belajar dan persiapan tes.

Mereka tidak pernah tahu bagaimana usaha yang saya lakukan didalam segala keterbatasan fasilitas yang serba kurang. Mereka tidak pernah tahu puluhan bahkan ratusan tes rekrutmen yang sudah saya ikuti. Namun, saya tidak mau ambil pusing tuduhan-tuduhan itu karena saya dan keluarga serta teman-teman dekat yang tahu bagaimana prosesnya. Yang kita perlukan hanyalah mengontrol ekspektasi kita yaitu selalu tetap menyiapkan untuk hal yang terburuk sekalipun.

Ada satu kutipan dari agama Islam yang saya sangat sukai karena sangat relatable dengan tulisan saya kali ini.

Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku

Umar bin Khattab

So, mari kita belajar untuk mengontrol ekspektasi kita karena dengan kita bisa mengontrol ekspektasi, kita terbiasa untuk tidak berharap berlebihan pada sesuatu hal yang tidak dalam kontrol kita. Karena sekalipun kita sudah mengusahakan sesuatu, tetap ada tangan Tuhan yang mengatur dan mengarahkan hasil yang terbaik untuk hidup kita. Sekalipun hasilnya itu buruk, Tuhan pasti ada rencana indah dibaliknya.

🌿Stay Waras Good People🌿

Bethaniafeby

11 tanggapan untuk “Seni Mengontrol Ekspektasi

  1. Sebagai tukang cicip makanan aku selalu belajar mengenai ekspektasi ini. Jangan pernah berekspektasi tinggi atau rendah karena akan mempengaruhi lidah dan penilaian.
    kudu beneran ngerasain sendiri baru deh percaya.
    Ini juga bisa diterapkan untuk banyak pekerjaan lainnya dan working

    Suka

  2. Setuju sekali, Kak. Apalagi, di dunia ini banyak banget hal nggak terduga yang mungkin bisa terjadi di diri kita. Ketika hal itu datang, kadang yang bisa kita lakukan adalah benar-benar mengontrol ekspektasi kita. Plus harus tahu mesti berbuat apa seandainya memang ekspektasi kita nggak sesuai. Jangan sampai terbuai, apalagi terjatuh terlalu dalam.

    Tulisan ini adalah pengingat yang baik. ❤

    Suka

  3. Alhamdulillah saya baca tulisan ini. Keren. Sangat informatif dan inspiratif. Plus yang paling penting, bisa menjadi Pengingat diri.

    Suka

  4. An inspiring written, Trimakasih kak untuk tulisanya, Aku sekarang sebagai mahasiswapun sangat dihantui dengan ekspektasi yang banyak baik soal karier, pendidikan, dll. Kedepanya berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri dan tidak terbelenggu ekspektasi berlebih adalah salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan.

    Suka

  5. Seni mengontrol ekspektasi…bagus sekali ulasannya ini Kak Feby.
    Kadang kita tidak menyiapkan untuk hal yang terburuk. Berekspektasi tinggi sehingga saat itu tak tercapai… ambyaaar rasanya. Kita terlupa ada campur tangan Tuhan yang jadi penentu hasilnya.

    Suka

  6. Tulisan yang menarik nih mbak, jujur saja saya juga masih belajar untuk dapat mengontrol ekspetasi apalagi yang berlebihan. Kembali, percaya kalau rejeki sudah ada yg ngatur dan pasti tak akan kemana, intinya kasi yang terbaik aja.

    Suka

  7. Ekspektasiku awal bulan ini klien bayar honor kerjaanku sebanyak 100 halaman. Realitanya, di-chat berkali-kali dibaca pun tidak 😦 Eh maaf, jadi curhat.

    Suka

  8. Ekspektasi saya sebagai Ibu anak 3 adalah semua pekerjaan rumah selesai sebelum anak² bangun. Nyatanya, sebaliknya dan sy stress sendiri. Akhirnya ga berekspektasi seperti itu lagi. Kerjain pekerjaan rumah sambil bercanda dgn anak². Pelan² jg pekerjaan rmh tetap selesai. Yg penting QTime bersama anak tetap terjaga.

    Setuju sama postingan kak Bethania 🥰

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s